sakaratul maut

|1 komentar
Mari kita mulai dengan meng-iqra fondasi ilmu dan dalil mengenai talqin sakaratul maut.
Makna talqin secara bahasa adalah menuntun orang untuk mengikuti kata-kata yang diucapkan. Kita disunnahkan untuk mentalqin orang yang akan meninggal dunia atau sedang menjalani sakaratul maut. Sebagaimana disabdakan Rasulullah Saw, "Talqinlah orang-orang yang akan mati dengan kalimahLa ilaha ilallah."

عن عثمان قال: قال رسول الله صلى الله عليه و سلم: مَنْ مَاتَ وَ هُوَ يَعْلَمُ أّنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ دَخَلَ اْلجَنَّةَ
Dari Utsman (bin ‘Affan radliayallahu anhu) berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Barangsiapa mati dalam keadaaan mengetahui (berilmu) bahwasanya tiada ilah (yang berhak disembah) selain Allah, maka ia akan masuk surga”. [H.R. Muslim]

Pernah dikatakan kepada Wahab bih Munabbih r.a., “Bukankah kunci surga itu kalimat “laa ilaaha illallah”?. Beliau menjawab, “Ya! tetapi tidak ada kunci itu melainkan ia memiliki gigi-gigi, jika engkau datang dengan (membawa) kunci yang memiliki gigi-gigi dibukalah (pintu surga itu) bagimu. Tetapi jika tidak, tak akan dibukakan (pintu itu) bagimu.” [H.R. Bukhari]

Dan sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memberikan syafaat, kecuali orang yang bersaksi/ mengakui kebenaran (kalimat tauhid) sedangkan mereka mengetahuinya. (QS. Az-Zukhruf: 86 ).

Berkata al-Hafizh Ibnu Katsir r.a., “Kecuali orang yang mengakui kebenaran sedangkan mereka mengetahuinya" ini adalah ististna munqathi’ (pengecualian terputus), yaitu tetapi yang bersaksi dengan kebenaran (kalimat tauhid) di atas bashirah dan ilmu maka sesungguhnya syafaatnya akan bermanfaat baginya di sisi-Nya dengan izin-Nya”. [Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim: IV/ 166].

Berkata asy-Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jaza’iriy, “kecuali orang yang mengakui kebenaran sedangkan mereka mengetahuinya, yaitu Allah ta’ala  mengecualikan bahwasanya orang yang bersaksi dengan kebenaran  yaitu kalimat “Laa ilaaha illallah”, sedangkan ia berilmu (mengetahui) kalimat tersebut dengan ilmu yakin, maka hal ini yang menjadikan para malaikat dan para Nabi memberi syafaat kepadanya. Maka berfirman Azza wa Jalla "kecuali orang yang mengakui kebenaran sedangkan mereka mengetahuinya" dengan hati mereka apa yang mereka saksikan dengan lisan mereka. Maka al-muwahhidun (orang-orang yang bertauhid) itu, syafaat itu akan mendapati mereka dengan izin Allah ta’ala “. [Aysar at-Tafasir: IV/ 660].

Katanya lagi, “Sedangkan mereka mengetahui", kalimat ini adalah haliyah (yaitu menunjukkan keadaan ketika bersaksi). Di dalam ayat ini terdapat suatu dalil bahwasanya orang yang tidak memahami kalimat “laa ilaaha illallah” dan ia mengucapkannya, ucapan tersebut tidak akan memberikan faidah kepadanya dan syafaatpun tidak akan meraihnya pada hari kiamat, karena ia harus memahami apa yang dinafikan dan apa yang diitsbatkan. Oleh karena, itu iman orang yang taklid itu diperselisihkan oleh ahli ilmu di dalam keshahihannya”. [catatan kaki dalam Aysar at-Tafasir: IV/ 660].

Berkata al-Imam al-Baghawiy, “Kecuali orang yang mengakui kebenaran", yaitu tauhid, "sedangkan mereka mengetahuinya", yaitu mereka di atas ilmu dan bashirah dengan apa yang mereka bersaksi dengannya”. [Fat-h al-Qadir: IV/ 648].


Dari beberapa dalil di atas beserta keterangannya, jelaslah syarat mendasar yang mesti dipenuhi oleh seseorang yang mengucapkan kalimat “Laa ilaaha illallah” dan kemudian agar ucapan tersebut berfaidah baginya di dunia berupa terpeliharanya darah, harta dan kemuliaannya dan juga bermanfaat baginya di hari kiamat berupa diselamatkan dan dijauhkan dirinya dari kekekalan siksa api neraka dan dimasukkan ke dalam surga yang abadi adalah dengan berilmu atau mengetahui makna dan tujuan dari kalimat yang diucapkannya tersebut.


Bicara perkara mati tentu tidak bisa melupakan kalimah tarjih dari Surah al-Baqarah: 156 berikut ini,

 إِنَّا للهِ وَإِنَّآ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
 Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan kepada-Nya kita kembali

Kalimah di atas bisa kita pertegas dengan pengertian bahwa kita ini berasal dari Allah dan akan kembali kepada Allah. Jadi, kita ini dari zat Allah; ber-zat-kan Zat Allah. Bukan Allah.

Supaya tidak seorang pun mabuk lalu mengaku jadi Allah, kita kupas kata kuncinya: "Allah, Zat, dan kita".


Apa Allah itu? Tuhan sekalian Zat [Rabbul izzati]; Yang Maha Esa, bergantung kepada-Nya segala sesuatu, tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada yang setara dengan-Nya (Q.S. al-Ikhlas);

Siapa Allah itu? Yang Maha Pencipta (Q.S. al-A'raaf: 54) Maha Meliputi segala sesuatu.

Bagaimana Allah itu? Yang laysa kamitlishi syaiun; tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya dan Dia Maha Meliputi segala sesuatu (Q.S. an-Nisa:126; Fushilat:54).

Di mana Allah itu? Allah itu dekat (Q.S. al-Baqarah:186). Buktinya ke mana pun kamu berpaling di situlah Wajah-Nya (Q.S. al-Baqarah:115), bahkan Dia padamu lebih dekat daripada kamu dengan urat lehermu sendiri (Q.S. Qaaf:16), wahai manusia.


Apa itu zat? Zat ialah sesuatu yang tidak berbentuk, tidak berbau, tidak berwarna, tidak berasa, tidak ber-arah, tidak bertempat, zat tidak bisa disebut, tidak ada tafsirnya karena zat tidak sama dengan segala yang berupa sifat. [bentuk, bau, warna, arah, tempat, dan lain-lain adalah sifat]

Siapa kita? Manusia.
Apa manusia itu? Makhluk ciptaan Tuhan yang disebut insan.
Seperti apa hakikinya insan itu?

هَلۡ أَتَىٰ عَلَى ٱلۡإِنسَـٰنِ حِينٌ۬ مِّنَ ٱلدَّهۡرِ لَمۡ يَكُن شَيۡـًٔ۬ا مَّذۡكُورًا 
Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, 
sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut? (Q.S. al-Insan:1)


Perthatikan [zat tidak bisa disebut, tidak ada tafsirnya] dan  [dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut = tidak ada tafsirnya]. Sampai di titik ini, Anda sudah paham bahwa diri hakiki kita ini berupa Zat? Zat siapa? Zat Allah. Dan Zat Allah bukan Allah, melainkan kedudukan Zat itu Esa beserta Allah. Mudah-mnudahan Anda sekarang semakin paham mengenaikeesaan Tuhan-hamba

Yang disebut Zat ini punya nama lain Ruh Qudus; disebut juga Nur Allah yang esa dengan Nur Muhammad.

Nah, paradigma dan landasan dalil sudah kita bahas. Sekarang ke menu utama.


Pertama Tuhan. Kemudian Cahaya Diri Tuhan [Nur Ilahi]. Ketiga, Nur Muhammad. Kemudian isi-isi alam (langit, bumi, manusia, dan lain-lain).

Inilah skema pengenalan untuk jalan kita menuju Tuhan.

Hakikat Muhammad adalah bekal yang tidak basi sampai akhirat. Hakikat Nur Muhammad inilah tubuh orang Islam. Mustahil orang Islam tidak mengenal hakikat tubuhnya. Kalau tidak tahu hakikat Muhammad, bagaimana menghadapi sakaratul maut? Maka Muhammad itu jangan disepelekan. Jangan langsung melompat ke Allah saja, lalu Muhammad dilupakan. Bukankah Muhammad itu syafa`atul uzma?

Dalam doa-doa saja orang banyak meminta, "Matikanlah kami dalam Islam." Kalau di dunia Islam, dalam mati pun musti Islam juga, di akhirat juga Islam. Kebanyakan orang mau mati dibacakan Yasin. Itu namanya penghakiman. Kasihanilah dia orang yang mau mati itu malah dibacakan surah yang berisi gambaran kehidupan akhirat di surga dan neraka. Itu sama saja dengan mengingatkannya akan dosa-dosa selama masih sehat. Ada juga orang mau mati disuruh menyebut zikir-zikir. Mana bisa lagi?

Coba diberi bekal supaya perjalanannya sampai di akhirat Islam terus. Hakikat Muhammad ini bukan berupa zikir-zikir dan baca-baca, melainkan hanya berupa perkataan saja. Bekalilah orang yang dalam sakaratul maut itu dengan Hakikat Muhammad sehingga akan mudah ia menghadapi sakaratul maut. 

Muhammad itu dia yang awal dan yang akhir; "fil awwali wal akhiri". Pada akhir hayat manusia, Muhammad yang awal akan diperlihatkan pada jasad manusia. Kalau tidak kenal dengan yang diperlihatkan itu, apa jadinya perjalanan siratal maut? Manusia itu siksa akan matinya. 

Kalau sudah kenal yang awal, apa yang akan ditakuti lagi menghadapi siratal maut. Pakailah untuk menolong diri sendiri dan sesama muslim dalam sakaratul maut:


"Muhammad
tubuhku, 

Nur
nyawaku"



Tuhan tidak ada awal; tidak ada akhir. Muhammad, dia yang awal dan yang akhir. Kita, Adam, ada awal ada akhir. Hakikat tauhid itu "laa mawjudun ilallah", tiada yang wujud selain wujud Allah. Jadi, wujud Hakikat Muhammad itu wujud siapa? Maka dalam ilmu makrifat: Hakikat Muhammad itu Allah, Allah itu Hakikat Muhammad.

Ambillah bekal yang tidak basi dari dunia sampai akhirat ini. Antarkan diri dan sanak keluarga mengembalikan nyawa ke tempat asalnya. Aku, H. Undang Siradj yang dhaif ini sangat cinta dan rindu pada kalian semua aminullah.
SYAIKH SIRADJ
"Bekal sakaratul maut"



original: Kalimat Talqin Sakaratul Maut untuk Diri dan Keluarga Meraih Husnul Khatimah [Bisa Jadi di Alam Barzakh Kelak Anda Menyesal Tidak Membaca Ini] | Muxlimo's Lair http://muxlimo.blogspot.com/2012/11/kalimat-talqin-sakaratul-maut-untuk.html#ixzz2D9wfGdEt 
Follow us: @MUXLIMO on Twitter | Muxlimo on Facebook